Punya Bokong Besar Baik untuk Kesehatan

Bagikan ke teman :
FBS Indonesia merupakan Broker Forex online yang menerima Deposit dan Withdrawal melalui bank Lokal BCA, MANDIRI dan BNI tanpa perantara atau Exchanger. FBS Indonesia memberikan bonus 100% setiap kali deposit. Eksekusi cepat 0,2 sec tanpa requote, Minimal deposit 1 USD, Spread rendah mulai 0,1 pips, Volume 0,01 lot, Leverage 1:3000. Anda bebas menerapkan semua teknik perdagangan di FBS Indonesia. Buka Akun Sekarang dan Mulai Trading! INFO: KLIK DISINI


Tidak sedikit wanita yang benci dengan bentuk bokong besar. Namun menurut penelitian, bokong berukuran besar justru baik untuk kesehatan. Mengapa?

Para peneliti di Oxford University menemukan bahwa lemak yang berada pada tubuh bagian bawah dapat memangkas kadar kolesterol buruk (LDL) dan meningkatkan koleksterol baik (HDL) yang melindungi tubuh dari pengerasan pembuluh darah. Namun peneliti menegaskan, area tubuh bagian bawah yang baik menyimpan lemak itu adalah paha dan bokong, bukan pada perut.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Obesity, menunjukkan bahwa manfaat dari memiliki bokong berukuran besar bisa mengurangi risiko terkena diabetes. Lemak gluteofemoral, tersimpan di bagian bahwa tubuh dan bertindak sebagai buffer (penyangga), menyapu bersih radang lemak yang bisa menyebabkan efek berbahaya di mana saja.

Profesor Jimmy Bell, Kepala Pencitraan Metabolik dan Molekular di Hammersmith Hospital NHS Trust, menjelaskan bahwa lemak bisa datang dalam dua bentuk, yakni yang 'baik' dan 'buruk'. Menurutnya, lemak di bagian bawah tubuh meluruh lebih lambat dari lemak di perut.

Orang dengan bokong serta paha besar memiliki tingkat inflamasi senyawa yang disebut sitokin. Sitokin adalah senyawa kimia yang terlibat dalam respons tubuh terhadap infeksi dan memainkan peran penting dalam penyakit jantung dan diabetes.

"Membakar terlalu banyak lemah sehat tidak baik untuk Anda. Namun kelebihan lemak di area tengah tubuh seperti perut dapat memiliki implikasi kesehatan yang parah," tutur Prof. Bell, seperti yang dikutip dari Daily Mail.

Sumber

Pembaca kami juga menyukai