Agar Laku, Pelacur Bangladesh Digemukkan

Bagikan ke teman :
FBS Indonesia merupakan Broker Forex online yang menerima Deposit dan Withdrawal melalui bank Lokal BCA, MANDIRI dan BNI tanpa perantara atau Exchanger. FBS Indonesia memberikan bonus 100% setiap kali deposit. Eksekusi cepat 0,2 sec tanpa requote, Minimal deposit 1 USD, Spread rendah mulai 0,1 pips, Volume 0,01 lot, Leverage 1:3000. Anda bebas menerapkan semua teknik perdagangan di FBS Indonesia. Buka Akun Sekarang dan Mulai Trading! INFO: KLIK DISINI


Seakan belum cukup derita menjadi pelacur di usia muda, para penjaja seks di Bangladesh dipaksa menjadi gemuk dengan menenggak pil yang diperuntukkan bagi binatang ternak.

Tanpa tahu bahaya apa yang mengintai, sekitar 900 pelacur di wilayah kumuh Kandapara, Bangladesh, harus menenggak Oradexon, sejenis steroid yang biasanya dipakai menggemukkan sapi.

Salah satunya adalah Hashi, 17, yang telah menjadi pelacur sejak berusia 10 tahun. Dia mengaku, sejak dipaksa minum Oradexon oleh mucikarinya, atau yang disebut sardanis di Bangladesh, nafsu makannya bertambah dan berat badannya naik dengan cepat.

Penggemukan dilakukan agar para pelacur kelihatan lebih segar, tidak seperti ketika mereka dijual oleh keluarganya ke sardanis, kurus dan pucat akibat kurang makan. Dengan postur tambun, pelacur di Kandapara mampu menarik banyak pelanggan.

"Saya merasa lebih sehat daripada sebelumnya dan mampu melayani banyak pelanggan, bahkan sampai 15 lelaki sehari," kata Hashi, dikutip dari Reuters.

Hashi tidak tahu bahwa obat yang diminumnya dapat menghancurkan tubuhnya. Menurut para aktivis sosial, Oradexon atau yang disebut juga Dexamethasone dapat menyebabkan diabetes, tekanan darah tinggi, ruam kulit dan sakit kepala. Terparah, obat steroid ini dapat menimbulkan kecanduan.

Setiap strip Oradexon berisi 10 pil dapat dengan mudah dibeli tanpa resep di warung-warung rokok di Kandapara dengan harga 15 taka atau sekitar Rp1.600 setiap stripnya.

Prostitusi remaja marak di wilayah Kandapara yang berisikan rumah-rumah kumuh yang dipisahkan sekat-sekat. Kebanyakan pelacur di wilayah ini dijual oleh keluarga mereka sendiri yang miskin. Termurah, bocah perempuan dibanderol 20.000 taka atau setara dengan Rp2,2 juta.

Dengan harga layanan termurah, yaitu 50 taka atau sekitar Rp5.000, lelaki hidung belang keluar masuk wilayah ini, untuk memuaskan nafsu bejat mereka.

• VIVAnews

Pembaca kami juga menyukai